Judul : Komunitas Tionghoa di Surabaya (1910-1946)
Penulis : Andjarwati Noordjah
Penerbit : Penerbit Ombak
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : 1
Ketebalan : xv+151 halaman.
Benarkah stereotip yang mengatakan bahwa golongan Tionghoa,sebagimana dicitrakan oleh mesin propaganda Orde Baru, hanyalah sekumpulan opotunitis yang menginginkan kekayaan tanpa prinsip dan tidak punya kepeduli apapun terhadap masyarakat dan politik di sekitarnya.
Buku ini mengingatkan kita kembali militasi komunitas Tionghoa. Banyak kenyataan sejarah yang di tutupu-tutupi atau secara tak sengaja terlupakan masyarakat kita di buka (oleh buku ini) dan memang sudah saatnyalah diingatkan kembali kepada msyarakat.
Anjarwati dengan cermat dan teliti mengali berbagi sumber dalam literatur dalam maupun ingatan seorang informan,serta berita-berita surat kabar dan majalah itu,sehingga muncul suatu kisah yang hidup mengenai zaman awal republik kita dan peran golongan Tionghoa yang tidak kecil.
sesudah membaca buku ini kita akan semakin yakin bahwa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berbagai golongan ikut serta secara heroik dan militan, sementara ada juga golongan juga yang mempertaruhkan nasib pada kembalinya rezim kolonial,termasuk golongan Bumiputra.
nasionalisme yang kompleks dan inklusif kiranyadapat memproses kerumitan kenyataan ini.
dalam kebangkitan kembali aktivisme golongan Tionghoa Indonesia sesudah 1998, materi seperti yang di uraikan dalam buku niscaya bermanfaat , dapat memberikan keberhasilan masyarakat kewargaan menghadapi kezaliman penguasa.
Penulis : Andjarwati Noordjah
Penerbit : Penerbit Ombak
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : 1
Ketebalan : xv+151 halaman.
Benarkah stereotip yang mengatakan bahwa golongan Tionghoa,sebagimana dicitrakan oleh mesin propaganda Orde Baru, hanyalah sekumpulan opotunitis yang menginginkan kekayaan tanpa prinsip dan tidak punya kepeduli apapun terhadap masyarakat dan politik di sekitarnya.
Buku ini mengingatkan kita kembali militasi komunitas Tionghoa. Banyak kenyataan sejarah yang di tutupu-tutupi atau secara tak sengaja terlupakan masyarakat kita di buka (oleh buku ini) dan memang sudah saatnyalah diingatkan kembali kepada msyarakat.
Anjarwati dengan cermat dan teliti mengali berbagi sumber dalam literatur dalam maupun ingatan seorang informan,serta berita-berita surat kabar dan majalah itu,sehingga muncul suatu kisah yang hidup mengenai zaman awal republik kita dan peran golongan Tionghoa yang tidak kecil.
sesudah membaca buku ini kita akan semakin yakin bahwa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berbagai golongan ikut serta secara heroik dan militan, sementara ada juga golongan juga yang mempertaruhkan nasib pada kembalinya rezim kolonial,termasuk golongan Bumiputra.
nasionalisme yang kompleks dan inklusif kiranyadapat memproses kerumitan kenyataan ini.
dalam kebangkitan kembali aktivisme golongan Tionghoa Indonesia sesudah 1998, materi seperti yang di uraikan dalam buku niscaya bermanfaat , dapat memberikan keberhasilan masyarakat kewargaan menghadapi kezaliman penguasa.
Buku yang berjudul Komunitas Tionghoa ini merupakan
buku yang sangat kontroversial dimana keterlibatan sebuah komunitas yang
dianggap minoritas di Indonesia saat itu dengan segala masalah yang ada.
Komunitas Tionghoa yang ada di Surabaya di yakini menjadi aspek atau cikal
bakal kemajuan ekonomi Surabaya saat itu sangat berkembang degan adanya
komunitas ini.
Didalam buku ini penulis menunjuka sisi lain dari
komunitas ini di surabaya , komunitas ini sering di anggap remeh oleh sebagaian
pihak namun di buku ii menunjukan sisi komunitas ebagai bentuk perubahan dan
menjadi salah satu aspek perkembangan ekonomi di surabaya. Dalam buku ini
masyarakat etnis Tionghoa menjadi penunjang ekonomi perkembangan surabaya ,
mereka yang dari duu seorang pedagang perantara antara VOC dengan bangsa
pribumi . Karena sifat mereka yang lebih mementingkan gotong royong,mereka
sring membantu saudara satu etnis mereka. Dalam hal lain mereka memiliki sikap
yang ulet,rajin,tekun,mandiri. Sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang sukses
menjadi saudagar dan memiliki pabrik gula,beras dan lain-lain. Seiring
perkembangannya mereka menguasai sektor ekonomi mereka membuat Surabaya menjadi
lebih maju lagi. Peran masyarakat Tionghoa ini tertutup dengan sistem
pemerintahan pada saat itu mereka menjalani diskriminatif selama
bertahun-tahun.
Kelebihan dalam buku ini
kita dapat mengetahui pengetahuan wawasan baru tentang masyarakat Tionghoa yang
ada di Indonesia,dalam menyampaikan maksud dalam buku ini tersampaikan dengan
baik tanpa merugikan pihak lain. Dalam hal ini kekurangannya belum saya
temukan.








